Sabtu, 13 Juni 2015

memaknai arti dari film sang pencerah dalam sebuah perjuangan Islam



Nama : Lina Nurlina                       
NIM : 2013820080
Prodi/Kelas : PGSD / BSD IV

RESENSI FILM SANG PENCERAH
Film ini menceritakan tentang sebuah perjuangan islam dan sebuah organisasi islam Muhammadiyah yang di dirikan oleh KH. Ahmad Dahlan.
Awal cerita pada tahun 1868 di sebuah kampung kauman yang merupakan kampung terbesar di Yogyakarta dengan masjid besar sebagai pusat kegiatan agama dipimpin seorang penghulu bergelar kamaludiningrat. Saat itu islam terpengaruh oleh ajaran syeh siti jenar yang meletakan raja sebagai perwjudan tuhan. Mayarakat meyakini titah raja adalah sabda tuhan syariat islam bergeser ke arah tahayul dan mistik. Sementara itu kemiskinan dan kebodohan merajalela akibat politik tanam paksa pemerintah belanda. Agama tidak bisa mengatasi keadaan, terlalu sibuk dengan tahayul yang bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah Rasul Muhammad Saw.
Sampai tiba suatu masa, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Muhammad Darwis, ia lahir dari pasangan orang tua yang dikenal sebagai pemuka agama. Ayahnya bernama kyai Abu Bakar, adalah seorang khatib dan Imama terbesar di mesjid besar kesultanan Yogyakarta. Sedangkan ibunya anak seorang penghulu bernama Haji Ibrahim.
Menginjak usia remaja, Muhammad Darwis memang memiliki sifat yag berbeda dengan masyarakat lainnya, kebanyakan masyarakat kampung selalu memberikan sesajen di tempat-tempat yang dianggap sakral salah satunya menyimpan kelapa muda dan kembang-kemang dibawah pohon rindang. Lalu muhmmad darwis diminta oleh ayahnya untuk menunaikan haji sambil memperdalam ilmu agama islam di tanah suci, sehingga setelah pulang nanti ayahnya meminta dengan membawa perubahan.
Setelah 5 tahun kemudian kembali ke tanah air Muhammad Darwis mengubah namanya menjadi ahmad Dahlan, tak lama juga ia menikahi gadis yang bernama Siti Walidah dan hingga ia bersemangat untuk sebuah cita-cita melakukan pemikiran dan pemahaman islam.
Ahmad dahlan mulai berdakwah menggantikan ayahnya yang sudah meninggal. Lalu Ia mengawali cita-citanya itu dengan mengubah arah kiblat pada arah yang sebenarnya, namun praktek pembaharuan yang dilakukan ahmad dahlan tidak semudah yang diharapkan. Dalam kemudian berusaha mewujudkan maksud pembaharuannya itu dengan membangun langgar sendiri dan meletakkan kiblat yang tepat. Masyarakat begitu membencinya ketika sudah menjadi kyai karena dianggap ajarannya sesat, banyak tantangan dari kaum tua serta penghulu daerah yang memerintahkan masyarakat membinasakan langgar yang dibangun Ahmad Dahlan itu.
Ahmad Dahlan bersedih tak mampu berbuat banyak dan nyaris putus asa, hampir saja ia dan istrinya meninggalkan kota kelahirannya itu jika seorang anggota keluarganya tidak menghalangi dan membangunkan untuknya sebuah langgar yang baru, dengan jaminan bahwa ia dapat mengajarkan pembaruan islamnya itu sesuai keyakinan sendiri tanpa ada gangguan dari orang lain. Ahmad Dahlan mulai berjalan dengan para murid-muridnya yang masih setia belajar sejak awal hingga mengajak murid-murid yang lainnya, dan ia berhasil walau masih banyak orang yang mencaci makinya dengan sebutan kyai kafir, namun ia tidak terpengaruh dengan ejekan-ejekan yang dilontarkan oleh masyarakat/orang lain. Tetapi setidaknya sudah menunjukkan titik cerah ketika ia mencapai kepercayaan menggantikan ayahnya sebagai khatib di masjid sultan.
            Pada tahun 1909 Ahmad dahlan memasuki organisasi pergerakan Budi Oetomo, dengan maksud memberikan pelajaran agama islam bagi para anggotanya. Ia berharap dapat mewujudkan tujuan yang lebih jelas, yaitu dapat memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah dan tempat-tempat lainnya. Dengan sekolah madrasah yang dibantu murid-muridnya, sekolah tersebut dibuka secara gratis untuk umum dan anak-anak yang dari keluarga tidak mampu untuk diajarkan agama islam yang benar. Berdirinya ekolah tersebut masih saja Ahmad Dahlan mendapat tolakan dari masyarakat serta guru-guru besar yang dahulu mengajarinya saat menuntut ilmu, hanya karena ahmad dahlan di dalam pengajarannya menggunakan alat-alat yang dianggap buatan kafir seperti papan tulis, meja, kursi. Saat salah satu guru besar mengunjungi sekolah yang didirikan Ahmad dahlan, yang ada hanya malah mengejek-ejek tentang fasilitas yang digunakan Ahmad Dahlan karena sudah menggunakan barang-barang buatan orang kafir, namun Ahmad Dahlan hanya bisa tersenyum dan membalik-balikan perkataan guru itu secara sopan.
            Para santri didikan Ahmad Dahlan itu akhirnya mempersiapkan diri secara matang untuk melakukan perombakan pada berbagai faham yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran islam. Tekadnnya itu mereka wujudkan dengan mendirikan organisasi islam yang diberi nama Muhammadiyah. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, bisa juga dikenal sebagai para pengikut Nabi Muhammad SAW. Walau sempat ada kesalahpahaman dengan para guru-guru dan kyai lainnya namun dapat diselesaikan sehingga tercapailah kedamaian dan tidak ada lagi pertikaian dan tidak lagi disebut sebagai agama yang menyimpang. Hingga akhirnya, Ahmad Dahlan dapat diterima di masyarakat, banyak orang kampung meminta nasehat kepadanya, bahkan murid dan santrinya pun bertambah banyak.